Archive | Traveling RSS feed for this section

Aussie Trip – (Ceritanya) Teaser

14 May

Setelah jumpalitan memadukan kerjaan kantor dan tiga kerja sampingan selama tiga bulan demi membiayai keseluruhan trip gue ke Aussie, HARI YANG DITUNGGU PUN DATANG JUGA! Berangkat ke Sydney! :D

Yes, tanggal 20-27 April lalu, gue dan sahabat gue, Openg, terbang ke Australia untuk jadi bridesmaids di pernikahan sahabat kita dari SMA, Tetha, di Melbourne. Berhubung sekalian digabung sama liburan, kami juga ngunjungin Sydney dua hari. Bukan apa-apa, tiket PPnya juga lebih murah ke sana daripada langsung ke Melbourne, jadi ya sekalian aja dua kota kita jajal :D SENAAANG SEKALI :D

Banyaaak banget cerita yang mau gue bagi selama enam hari di sana! Tapi entar ye, curiganya pegel nih gue nulisnya… Jadi teaser dulu aja :D

Ini adalah video pas kami transit di bandara LCCT Kuala Lumpur, Malaysia menuju Sydney (naik Air Asia). Bandaranya bapuk naujubilahbinjalik, macem stasiun Gambir. Ternyata kalo low budget airlines, landingnya emang di airport itu. Sedih ya, macem dikastain gitu =)) Kami bikin video ini karena mati gaya abadi, soalnya transitnya 5 jam lebih, huhuhuhu…

Anywaaay, silahkan ditonton dulu dan sampai jumpa di postingan berikutnya :D

Cheers!

Jogja di Bulan Mei #2 – Melepas Lampion Waisak

10 May

Kembali ke obsesi gue untuk menyaksikan perayaan Waisak di Borobudur langsung, esok harinya, Minggu 6 Mei 2012, gue dan temen-temen satu trip berangkat dari hostel kira-kira jam 6 pagi pakai mobil sewaan. Sebenarnya disarankan untuk berangkat lebih pagi lagi, karena kalau kesiangan, jalur untuk ke Candi Mendut & Borobudur di Magelang nanti keburu ditutup. Beruntung pagi itu kita masih sempet sampai ke Candi Mendut tepat waktu (baca: nerobos) dan bisa ngikuti prosesi perayaan Waisak dari awal.

*ketemu sama Ste di Candi Mendut, padahal nggak janjian :’D*

Yes, prosesi perayaan Waisak ini memang dimulai dari Candi Mendut. Di sana udah disiapin tenda besar untuk menampung semua umat Budha yang datang dari segala penjuru Indonesia. Lalu selama beberapa jam diadakan ibadah bersama beserta ritual Waisaknya. Hari itu rame dan panaaas sekali. Dan turisnya banyak banget! Kayaknya tiap tahun acara Waisak ini memang jadi salah satu event yang dinanti-nanti sama banyak orang. Terbukti sepanjang jalan masuk ke Candi Mendut, banyak banget yang sibuk foto-foto suasana perayaannya, nggak turis lokal, nggak turis mancanegara, nyampur semua :D Ibadahnya sendiri selain ada doa-doa dan nyanyian, menjelang detik-detik Waisaknya, biksu yang memimpin ibadah mengajak semuanya untuk bermeditasi (yang mana gue nggak bisa fokus, jadinya merem aja) terus beliau mulai mengucapkan doa-doa. Ada satu potongan doa yang gue inget dan menurut gue baguuus sekali. Bahwa kehilangan yang paling mendalam dan yang paling bikin menyesal adalah kehilangan waktu. Bukan materi. Jadi, manfaatkanlah waktu yang kita miliki sebaik mungkin, karena kadang kita suka lupa, waktu itu nggak nunggu kita. Dia cuma lewat begitu aja kalau kita nggak melakukan sesuatu hal yang baik dan bermanfaat.

Setelah ibadah selesai, gue dan temen-temen langsung cabut ke Borobudur. Selain karena nggak tahan panas (PANAS BANGET, SUMPAH!), ramenya juga nggak ketulungan. Udah gitu para peserta itu sedang jam makan siang, jadi lebih baik kami langsung jalan ke Borobudur supaya nanti nggak kejebak macet sama para peserta yang akan pawai/jalan kaki dari Mendut ke Borobudur.

Kelar makan siang di Borobudur, gue dan temen-temen mati gaya total. Daripada nggak ngapa-ngapain, kami akhirnya tidur di mobil. Tadinya mikir mau tidur bentar aja terus masuk ke Borobudur pas jam upacara mau dimulai… Nggak taunya, dooong!

UJAN AJA GITU -_____-

Ujannya lamaaaaaa banget,. Setiap kami kira ujannya udah reda, begitu buka pintu mobil ternyata masih rintik-rintik, terus lama-lama deras lagi. Gituuu terus. Ada kali kita di mobil 4 jam. Tidur dari jam 1 siang, bangun tidur, tidur lagi, ngemil, lama-lama curhat =)), tiduran lagi, UJANNYA TETEP KAGAK BERHENTI JUGA. Saking lamanya kita nunggu udah bisa bangun candi lagi kali -______-

Akhirnya karena udah mati gaya maksimal dan langit makin gelap, sekitar jam 5 sore, gue dan temen-temen maksain turun. Ujannya masih awet rintik-rintik, tapi nggak papalah, terobos aja, pake payung ini. Sampe depan loket…

LOKETNYA TUTUP.

T_________________T

*pretelin candi*

Karena nggak rela udah nunggu berjam-jam, kami pun cari cara lain untuk masuk. Mengingat nerobos dari pintu keluar nggak mungkin karena masih ada penjaga, maka kami pun detour jauh bener dari pintu lain (Pintu 7). Pintu 7 ini adalah pintu yang digunakan para peserta perayaan Waisak untuk masuk ke area Candi, sementara pengunjung biasa harusnya lewat pintu depan. Ya udahlah, ya…

Singkat kata, akhirnya kami sampai juga di pelataran candi Borobudur. Kami berdiri di depan altar dan podium yang kelihatan sakral dan baguuus banget dengan patung Buddhanya yang bersinar. Borobudurnya hampir nggak keliatan malah karena gelap. Dari situ kami semua sibuk foto-foto sampai ibadah dimulai. Tepat pas ibadah mau mulai, tiba-tiba ada sinar terang dari sebelah kiri belakang podium, ada lampu tembak ternyata. Dan lampu tembaknya itu mengarah persis ke stupa terbesar di Borobudur (puncaknya). Jadi kayak transfer sinar gitu dan stupanya jadi terang. Dipaduin sama langit malam yang bersih dan awan-awan yang berarakan, pemandangannya jadi baguuus BANGET *_*

Ibadah Waisak malam itu juga dipimpin sama majelis-majelis dari negara lain (dan doanya dibawain dalam bahasa mereka). Yang gue inget, ada biksu yang datang dari India, Nepal, dan Bhutan. Di tengah ibadah, kami semua nengadah ke langit. Tadi salah satu biksunya sempat ngebahas soal bulan purnama malam itu, dan pas nengok ke atas, langitnya terang banget, karena bulan purnamanya udah kelihatan jelas :D Lagi-lagi pemandangan lain yang kayak lukisan, perpaduan altar dengan patung Buddha bersinar, bulan purnama, langit yang bersih, dan stupa menyala di puncak Borobudur yang berdiri kokoh.

KEREN KABINA-BINA *_*

Setelah ibadah, kami sampai di momen yang ditunggu-tunggu: mengikuti ritual Pradaksina (mengelilingi objek yang dianggap suci, dalam hal ini candi Borobudur, sebagai bentuk penghormatan sebanyak tiga kali sambil membawa lilin menyala). Sehabis itu… PELEPASAN LAMPION :D

Sejak selesai ritual Pradaksina, gue taruh lilin yang tadi gue bawa di tempat yang tersedia sambil mengucapkan doa dan harapan gue, pun ketika lampion dilepaskan, kami semua menerbangkannya sambil mengucapkan doa dan keinginan :) Persis kayak adegan Arisan!2, hehehe…

Suasana waktu ngelilingin candi sakraaal banget rasanya, didukung sama lagunya yang haunting itu… (nanti bisa didenger di video di bawah). Dan untuk pelepasan lampionnya sendiri… Words cannot describe how beautiful it was, really. Even my pictures won’t do any justice. YOU HAVE TO SEE IT YOURSELF. It was really really really beautiful and surreal, my God.

Pictures by: Wilian Hengky

Buat yang belum sempet datang tahun ini, masih ada kesempatan di tahun-tahun ke depan. Kalau pengen tau suasananya pas lampion dilepaskan, ini ada video buatan Adit (@wowadit) ketika pelepasan lampion berlangsung.

I hope you can experience this yourself one day, pretty peeps. Witness the beauty and say your prayers :)


Jogja di Bulan Mei #1

10 May

Ada dua hal yang ingiiin sekali gue lakukan setelah nonton Arisan!2 tahun lalu:

1. Menyaksikan perayaan Waisak dan pelepasan lampion langsung di Borobudur

2. Liburan dan menyepi di Gili, Lombok

Setelah gue pulang dari bioskop, ingatan gue tentang adegan perayaan Waisak yang dihadiri Cut Mini di film itu nggak hilang-hilang dari kepala gue. Maka langsunglah gue liat kalender dan googling informasinya. Untungnya, perayaan tahun ini jatuh di hari Minggu. Itu artinya, gue nggak perlu cuti terlalu lama, cukup sehari aja untuk bisa istirahat setelahnya, sementara gue bisa memanfaatkan waktu dari Jumat dan Sabtu untuk jalan-jalan di sekitar Jogja.

Jadi, deh, tahun ini gue ke Borobudur demi Waisak! :D

Karena gue udah lamaaa banget nggak menempuh perjalanan jauh naik kereta api, tahun ini gue putuskan untuk naik kereta lagi. Gue pesen tiket kereta eksekutif Argo Lawu yang berangkat jam 8 malam dari Gambir. Harga totalnya 327, 500. Mungkin sebagian orang mikir, kenapa nggak naik pesawat aja, toh harganya nggak beda jauh dan lebih hemat waktu.

…karena nggak ada yang ngalahin rasanya menempuh perjalanan naik kereta tengah malam :)

Plus, gue nggak usah ambil cuti lagi. Sayang, ceu.

Gue pergi ke Jogja bareng sama Adit (@wowadit), dan bisa dipastikan kalo duduk sebelahan sama dia maka perjalanan ini cenderung menjadi perjalanan lawak =)))))) Keretanya belum jalan aja gue udah ngap-ngapan cekikikan =))) Tapi karena kita capek dan ngantuk, akhirnya mingkem juga dengan sendirinya =)))

Sampai di Jogja, karena masih pagi buta (sekitar jam setengah 5), kami numpang tidur di rumah temannya Adit, mas Erik (Endak Soekamti). Rasanya kayak backpacker sejati kalo gini, dateng ke kota lain cuma modal satu ransel, numpang tidur dan mandi di rumah orang, terus cabut lagi ngelanjutin perjalanan =))) Sekitar jam 9 pagi hari Sabtu, gue pun jalan ke hostel gue di daerah Ngampilan, dan kemudian misah sama Adit dan Mas Erik. Terima kasih banyak, ya, mas, tumpangannya! :)

Hostel gue namanya EDU Hostel. Salah satu hostel yang agak baru dan KECE! Gede dan apa yah… bersih dan beres aja gitu keliatannya =)) Murah banget lagi. Gue nginep di kamar share (6 tempat tidur di kamar khusus perempuan) dan semalamnya harganya cuma… Rp 70, 000!

Dapat sarapan nasi goreng lagi!

Lumayan banget kan untuk numpang tidur doang, nggak usah bayar mahal gitu, jadi nggak nyesek =))

Hari Sabtu itu, gue janjian sama neng Kiki (@kikitja), temen twitter yang berdomisili di Jogja.Ternyata aslinya anaknya haluuus sekali cara ngomongnya, sopan banget kayak adek kelas, hihihi… TAPI BOK, konten obrolannya ABSURD semua =))) AMBYAR TENAN, bikin gue ngakak mulu =))) Dek Kiki, mohon kisah hidupnya lebih sering dibagi di blog, agar kami menjadi pembaca bahagia =)))

Untuk ngisi waktu, karena gue nggak tau mau ngapain, jadinya gue mengukuhkan diri sebagai turis aja: ngunjungin Museum Kereta, Keraton, dan Taman Sari. Standar abis kan, kunjungannya? Ya abis setahun lalu gue udah ke Ullen Sentalu dan tempat-tempat lain, jadi udah bingung mau ngapain…

*Salah satu kereta di Museum Kereta*

*dispenser jaman baheula — kok lebih bagus yang dulu ya?*

Siangnya, kita makan siang di restoran fine dining yang cukup hip (dan nampak agak baru) di Jogja, namanya Zango. Tempatnya enak dan masakannya masakan perancis gitu (tapi ada menu internasional lainnya juga, kok). Harganya juga masih dompetsiawi dibandingkan tempat makan serupa di Jakarta. Mari loh, dicoba kalo ke sana :D

Sorenya, gue mampir Pasar Beringharjo bentar untuk nyari tas slempang oranye idaman gue. Udah diwanti-wanti untuk nawar, pas sampe sana, tas yang diincar ternyata cuma dihargai 20, 000. Kalo gue tawar lagi bisa-bisa gue dirudal ama yang jual. Murah banget, cin!

Abis dari Beringharjo, gue ngesot bentar ke Mirota Batik dan membeli seperangkat benda-benda tidak penting. Dibeli cuma karena lucu dan murah =)) #impulsif #jangan ditiru

Sorenya, kita naik andong menuju Kamikoti buat ngopi-ngopi cantik. Coffee shop lucu ini terletak di daerah Alun-Alun Selatan. Patut dicoba :D Udah gitu kita ngopinya pas lagi hujan pula, kan jadi agak-agak romantis gimanaaa gitu. #diserudukkuda

Malemnya, setelah mandi ala tentara a.k.a mandi kilat, gue ngesot bentaran ke tempat temen kecil gue, si Lina. Nggak terasa ternyata udah nggak ketemu setahun sama ni anak. Kangeeen banget! Seneng deh biar cuma sebentar, kami sempet ketemu dan gegosipan seperti biasa, hahaha… Setahun lewat dan masih banyak cerita. Rumah yayasan yang Lina dan teman-temannya kelola pun udah banyak berubah, jadi jauh lebih bagus :D Gue juga sempet diceritain soal pengalaman misionarisnya Lina ke Ambon dan pedalaman Papua, plus liat foto-foto dan videonya. Seru abis *_* Walaupun serem juga, karena ada cerita Lina kejebak badai di laut di Papua sana, PADAHAL DIA CUMA NAIK SAMPAN KECIL! Huhuhu… -________- *frustrasi dengernya* Puji Tuhan masih sehat selamat dan hari itu bisa ketemu :)

Begitulah kira-kira hari Sabtu gue kemarin… Sepulangnya dari tempat Lina, langsung tidur karena besoknya bakal ngejalanin hari yang panjang.

WAISAK! :D

Borobodur here I come! :D


Taman Mini yang Tidak Mini

9 May

 

 

 

 

 

 

 

 

Buat gue, pertemanan yang menyenangkan adalah ketika di mana pun elo berada, asal sama mereka, waktu rasanya nggak pernah cukup, hari nggak pernah jadi basi, dan bahkan cuaca apapun nggak mengurangi hasrat lo buat senyum dan ketawa. Kira-kira seistimewa itulah pertemanan itu.

Dan saking istimewanya, acara piknik sederhana ke tempat wisata sejuta umat sejak jaman dahulu pun nggak pernah jadi garing, karena perginya sama para kesayangan :D Mau panas, mau hujan, mau cuma ngedeprok di bawah pohon dan makan di atas gelaran koran, gue nggak berhenti senyum dan ketawa hari itu.

Jadi alkisah ye, untuk merayakan ulang tahun Inyi, si mama semlohayyang jago masak, anak-anak Nyinyirs mencanangkan untuk melakukan piknik di Taman Mini Indonesia Indah. Tempat ini pertama gue injak waktu kelas 5 SD dulu dan kayaknya terakhirnya gue kunjungin pas SMP. Itu pun kalo nggak perlu-perlu amat, rasanya gue nggak bakal ke situ. Sandy malah belum pernah ke situ, hahaha…

Tapi ya karena perginya rame-rame dan atas nama piknik bareng, entah kenapa hawanya kayak mau karyawisata sekolah jaman SD dulu. Bawaannya excited BANGET :D

Begitu masuk kompleks TMIInya, gue sama Nindya yang satu taksi udah ribut begitu liat kanan-kiri, pengen ke situ dan foto-foto =)) Begitu ketemu yang lain di parkiran, ternyata mereka sama aja ributnya =)) Malah langsung semangat ’45 pengen naik kereta gantung dan euphoria berlebihan pas liat pemandangan di atas =)) Sumpah, gue pas SD jauh lebih cool daripada hari itu =))

*kalangan gampang hepi, masuk TMII aja girang banget =))*

*menuju kereta gantung*

*Naga & Caya yang hepi banget kayaknya naik kereta gantung =))*

Foto dari: Baba & Bubu

Kelar naik kereta gantung, kita lanjut keliling ke museum dan anjungan-anjungan yang kita incer. Sempet numpang ngadem di museum Komodo yang sayangnya sangat tidak terawat menurut gue, terus pose bentar di anjungan Jambi buat dikirim ke Nyinyirs cabang Jambi: Pito. (Ini karena kami semua KANGEN BANGET sama kamu! :D ), terus naik monorail deh :D

#HORANGKAYAH: Punya gerbong pribadi =))

Capek ngiter dan udah kepanasan karena mataharinya terik banget, kami semua lalu cari tempat untuk makan siang dan berteduh. Dengan bermodalkan koran bekas yang ditemuin di mobil Adit, piknik pun resmi digelar! =)) Makananannya enak-enak loh! Ada broccoli and cheese buatan Inyi, martabak Kopi dari Nindya, tongkol pedes buatan mamanya Adit, pecel endes dari Cibubur, dan beraneka ragam kue :D

*abis makan, main balon =))*

*the birthday gurl dengan alat-alat masak idaman :D *

Kelar makan, cuaca malah berubah mendung. Tapi karena kita anaknya lincah, jadi ya tancep terus jalan-jalannya =)) Abis makan kita ke istana anak-anak, ke museum ikan air tawar dan museum serangga, terus foto-foto di klenteng Kong Hu Cu, dan ditutup dengan foto-foto di museum Transportasi.

*kalo lagi ditinggal Pangeran William dinas, saya berusaha untuk lebih dekat dengan rakyat* =))))

#dijorokinkebawah

*jamah ikannya, bukan saya*

*Belut listrik. Gede dan elektrik.*

#brbambilwudhu

*bersama para mas-mas ganteng anaknya Ibeth: Mas Hugo dan Mas Nino*

oranye!

*sama Nino yang katanya lagi ngabisin stok cium =))*

*niru pasangan yang foto pre-wed di kereta sebelah =))) tapi ini belum kawin udah beda tujuan =)))*

Ternyata sekarang banyak tempat baru di TMII yang lumayan seru buat dikunjungin rame-rame. Karena tempatnya gede banget, kayaknya kudu dari pagi bener deh ngiternya, itu aja sampe sore udah pliket maksimal =)) Andai aja beberapa tempat lebih bersih dan terawat, terus promosinya dikencengin, TMII bener-bener bisa jadi tempat hiburan yang nyaman buat semua orang, khususnya orang Jakarta yang nggak weekdays nggak weekend liatnya gedung, jalanan macet, sama mall mulu kerjaannya… KAMI DESPERATE INIH PENGEN PUNYA TAMAN YANG KECE!

In the meantime, selamat berkunjung ke TMII yah… Kunjungilah dengan orang-orang tersayang yang otaknya sama-sama geser dan celotehannya absurd, niscaya piknik bersama menjadi piknik Srimulat =)))

I LOVE YOU, NYINYIRS!

Sampai jumpa di piknik selanjutnya! :D

 

 

 

 

 

 

 

 

I miss…

11 Apr

…Holland, terribly.

Den Haag, 20 May 2007

 

Yasalam udah 4 taun aje -_______-

*nabung ampe tuir*

Singapore oh Singapore

3 Apr

Atas nama haus udara segar, akhir tahun lalu gue memutuskan untuk jalan-jalan singkat ke negara tetangga kita, Singapura. Tripnya cuma 2 hari, tapi cukuplah buat gue ngambil impresi singkat soal negaranya.

Bermodalkan satu tas ransel, gue pun terbang ke Singapore.

Sampe di sana, ada satu kegiatan yang harus gue lakukan terlebih dahulu: merawanin convenient storenya. Hehehe… I love the fact that I can see or buy little things that I can’t buy in my home country. Entah itu cuma air mineral, permen, atau coklat. Kayak muncul bubble di atas kepala gue yang bilang: “I have tasted this and you guys haven’t.”

Ngehek nggak tuh. :P

Anyway, belanja di 7-11 airport juga ada alasannya, yaitu sekalian mecahin duit supaya bisa beli tiket MRT, karena biasanya money changer di Jakarta nggak ngasih pecahan uang yang lebih kecil, apalagi koin. Abis itu gue naik MRT dari airport ke Chevron House (turun di stasiun Raffles Place) buat nyari makan siang. Well, tujuan awalnya bukan Chevron House sih, tapi Singapore Flyer. Cuma karena gue nyasar (!), daripada berabe ya udah pasrah aja turun di Chevron House. Seneng deh gue, keluar dari stasiun langsung nemu taman… Gue liat orang-orang pada lalu lalang atau sekedar duduk-duduk di situ… Mane ade yang kayak beginian di Jakarta. Sekalinya ada, di kompleks mal -_- (Central Park, contohnya)

 

*emaaak, aku naik MRT, emaaak! #kelindes*



*di sekitar Chevron House (turun di stasiun Raffles Place)*

Kelar ganti baju dan ngiter-ngiter sebentar di seputar Chevron House, gue pun lanjut jalan-jalan ke daerah di depan area itu, yang mana ternyata adalah perkantoran. Aneh juga ngeliatnya. Kalo di daerah Sudirman, Jakarta, pemandangan yang sering terlihat adalah gedung-gedung tinggi dengan jalanan yang lebar, kalo di sini jalannya sempit-sempit gitu. Well, at least di daerah yang gue lewatin ini yah…

Karena waktu itu udah siang, gue pun memutuskan untuk cari makan… Secara kite lagi di negeri orang ya, mak, makan siang kudu beda dooooong! Akhirnya pilihan pun jatuh ke…

 

BURGER KING


Krik… krik… krik…

 

Beda dari Hongkong.

Yah, berhubung tempat makan lain di situ kurang meyakinkan penampakannya (dan nampak mahal juga), jadilah gue kembali ke habitat. Tapi nggak papa, masih ada hal-hal lain yang bisa dicoba.

Kelar makan siang, gue melanjutkan jalan-jalan ke daerah sekitar termasuk ke hotel Fullerton yang keliatan tua tapi megah itu. Gue juga suka banget jalan di pinggiran sungainya. Sejuk dan asri banget, banyak tempat duduk, dan ada tukang es potong! :D

*street impression*

 

*es krim potong cuma 1 dolar Singapore, juara! :D *


Setelah keliling-keliling di sini, sorenya gue pun pindah ke One Fullerton. Yes. Berhubung baru pertama kali ke sini, maka gue mewajibkan diri untuk foto di depan si patung singa (Merlion) yang ada di area One Fullerton ini (Merlion Park). Man, I love this place. Walaupun di sekitar patungnya rame, tapi waktu itu udaranya lagi sejuk dan tempatnya bersih banget. Terus di One Fullerton itu banyak kafe/coffee shop terbuka dengan pemandangan sungai, Singapore Flyer, dan hotel Marina  Bay Sands yang kece itu di depannya.

SAYA IRI PADAMU WAHAI RAKYAT SINGAPURA!


*turis dari berbagai negara di Asia, yang bule juga ada tapi dikit*


Kelar foto-foto, gue nyobain river cruising. Untuk river cruising ini, kalian bisa milih, mau full track ngelilingin semua pemberhentian atau mau naik sampai tempat tertentu aja. Gue milih untuk cruising sampe Clarke Quay aja (S$ 8), lebih murah. Dan apa rasanya sore-sore naik boat sambil nikmatin udara segar dan kota yang bersih? SURGA! Andai aja sungai-sungai di Jakarta dipreserve, bantaran kali ditata, bukan nggak mungkin kita bisa bikin yang beginian juga. Jadi hiburan buat rakyat plus ngebuka peluang usaha pula.

Dan gue pun sampai di Clarke Quay. Tempatnya lucu dan lagi-lagi didesign dengan suasana outdoor. Sungguh sempurna buat nyantai sore-sore. Di seberangnya juga ada mal yang cukup gede yang namanya Central. Di depan mal itu ada undakan tangga (pinggir sungai), kita bisa duduk-duduk di situ sambil sekedar makan es krim atau ngadem. Enak banget kali ya pulang kerja bisa begitu.

Kalau Clarke Quaynya sendiri, walaupun tempatnya lucu, menurut gue restorannya kurang menarik. Well, mungkin karena kebanyakan yang ada di situ restoran upscale semua kali yah, dan nggak ada yang bener-bener menarik. Akhirnya gue cuma ngiter-ngiter beli anting di salah satu stand di situ. Eh tapi kalau kalian sempet ke situ, jangan lupa cobain es krim Turkinya, ya! Murah kok, dan rasanya unik. Gue sempet nyobain es krim vanillanya, rasanya nggak ada susu-susunya sama sekali, tapi enak :D

Memasuki hari kedua, nggak banyak yang gue lakuin kecuali cek-cek ombak di Orchard Road. It was kind of boring actually, karena isinya mall semua. Tapi tetep suasana kawasannya yang asri, banyak pohon, dan bersih paling nggak membantu bikin para pengunjung ngerasa nyaman. Tapi tetep aja mall-nya rame -_________-

Di Orchard, gue sempet mampir ke Rubi Shoes di ION mall. Gue tau tempat ini dari rekomendasi temen-temen yang mana mengatakan bahwa di sini banyak sepatu murah yang ukurannya gede. AYE!

Maka betapa gue bawaannya pengen nyium lante ketika nemu sepatu ukuran 41-42 di sini. Bahkan yang ukurannya 40 aja muat. Kedengarannya lebay, tapi buat cewek-cewek yang ngerasain betapa susahnya nyari sepatu yang affordable dengan ukuran raksasa di Jakarta, you’re gonna love this place. :D

Kelar belanja sepatu yang sayangnya tidak banyak-banyak amat, gue pun kembali ke airport. Siap-siap mau pulang. Dari Orchard ke Changi kan jauh banget tuh, tapi dasar negara teratur, cukup naik MRT saja maka kalian bisa sampe airport dengan lancar dan selamat. Mana ada yang beginian di Jakarteee? Emang sih kondisi geografisnya beda sama Jakarta, negara ini lebih mini, tapi enak banget ya kalau Jakarta bisa ada MRT gini. Kalau ke airport nggak mesti sengsara berangkat berjam-jam lebih cepet plus deg-degan kalau jalanan tiba-tiba macet.

*Bye, Singapore!*

Oh well, akhirnya kelar deh perjalanan dua hari gue. Singkat, capek, tapi menyenangkan. Dan gue rasa kemampuan jalan kaki + jalan cepet ala kelabang gue makin mumpuni di sini, mwahahahaha… Yang bisa gue simpulkan dari trip singkat ini:

Betapa bahagianya bisa tinggal di kota/negara yang sangat terawat, terorganisir, dan tertib kayak begini. Living here is easy in terms of accomodation. Nggak ada mall, bisa nongkrong di taman. 7-11-nya? BEBAS ALAY :D Dan convenient store ini ada di mana-mana. Terus gue denger di 7/11 bahkan bisa bayar listrik, bayar tiket pesawat, dan lain-lain. See?  What an easy living.

Tapiii… Sebagus-bagusnya negara orang, tetep aja ada kurangnya. Buat gue selama dua hari di situ, ada “rasa” yang hilang. Saking teraturnya semua hal, akhirnya yang gue rasain adalah ritme hidup yang monoton, nggak ada dinamis-dinamisnya. Everything is predictable. Lama-lama jadi robot. Itu baru dua hari, loh. Belum lagi dengan budaya kiasu (ambisius; nggak mau kalah) yang pernah gue baca, bikin hidup selalu penuh persaingan dan tekanan. Terus gue baca juga di After Orchard (bukunya Margareta Astaman), kebebasan pers di sana dibatasi oleh pemerintah, untuk mencegah kericuhan yang nggak diinginkan. Kalau itu diterapkan di negara kayak kita yang rakyatnya belum  semua (sebagian besar malah) teredukasi dengan baik, gue bisa ngerti. Gimana coba mau kasih kebebasan berpendapat ke orang-orang yang anarkis di sini? (seperti forum-forum sok itu misalnya). Nah, kalau negara dengan rakyat yang pendidikan maju kayak Singapura, pembatasan kebebasan berpendapat justru (menurut gue), bikin pikiran orang-orang jadi mandeg, nggak terbiasa vokal dan kritis, akibatnya, ya ujung-ujungnya jadi robot lagi, deh.

Eh sorry kalau kedengarannya sotoy. Gue cuma nyimpulin ini dari apa yang gue lihat selama dua hari plus ngebaca buku karangan Margareta Astaman tadi. Dia kuliah selama empat tahun di Singapura dan ngerasain betapa kehidupan di sana begitu nyaman dan teratur, sekaligus sangat berat di saat yang saama. Kalau belum baca, baca deh :D Seru lho bisa tau kehidupan di negara lain. It has always been my favorite kind of book :D


Aight then pretty peeps, sekian laporan pandangan mata (yang udah basi) dan parade foto-foto (maklum yang nulis banci foto, hehehe…) dari negeri Singa. Doakan saya bisa jalan-jalan ke tempat lain dan menceritakan hal-hal seru lainnya yaaa! Amen :D

 

 

 

 

Mantan Turis

13 Sep

Semoga saya berkesempatan traveling (gratis) lagi. Amiiiiin!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 41 other followers