Archive | Review RSS feed for this section

Madre, a review…

24 Jul

Terus terang, gue nggak pintar mengulas sesuatu, apalagi buku, karena menurut gue hasilnya akan sangat subjektif dan gue selalu ragu apakah ulasan gue bisa sampai ke yang baca sesuai dengan yang gue maksud.

 

But anyway, I hope this helps.

Waktu awal-awal baca Madre sampai kemudian mengakhirinya, pertanyaan yang selalu muncul di kepala gue adalah: “Kok bisa, sih?”

Lalu pertanyaan kedua: “Ni orang makannya apa sih nulisnya bagus amaaat?”

Dan terakhirnya pasrah dalam kekaguman, karena nggak nemu jawabannya.

Mungkin masih banyak penulis-penulis brilian di luar sana yang buku-bukunya belum gue baca, tapi cukuplah buat gue untuk menobatkan Dewi Lestari sebagai salah satu dari mereka.

Buat gue membaca Madre (dan juga buku-buku sebelumnya) menunjukkan betapa cerdas, manis, dan pintarnya seorang Dewi Lestari merangkai kata. Merangkai cerita.

Betapa manusiawinya sehingga kita merasa jadi bagian dari cerita itu. Betapa menyentuh sisi emosional manusia sehingga kita jadi terbawa perasaan.
Dan betapa “tak tergapai”nya sampai gue nggak habis pikir: “Kok bisa ya kepikiran bikin cerita sebagus ini?”
Nggak semuanya njelimet lho, ada yang ide ceritanya sederhana banget, tapi tetep aja jatuhnya bagus.

Bahkan laki gue yang nggak pernah baca tulisan penulis Indonesia aja langsung kagum sama cara Dewi menulis begitu gue suruh baca.

Jadi itulah yang gue rasakan setiap selesai baca buku-bukunya Dewi Lestari: “penuh” dan kagum. Selalu ada rasa yang gue bawa pulang.

Semoga suatu saat nanti gue bisa menulis sebagus mbak ini, dengan cara gue sendiri.

Verzonden vanaf mijn blackberry

Old Town!

12 Apr

 


On our way to Kota Tua (this was actually quite near) we snapped this old hotel

Museum Bank Mandiri


Yaaang artinyaaa: “Banking Department”

*Buku Besar (Grootboek) untu mencatat laporan keuangan, ukurannya 67 x 54 x 13 cm. Yang ada orang malah males nulis ini mah…*

*Mesin tik segede dosa*

*Ini sumpah serem pas berdiri di belakang patung ini*

*Ibu mau ngantri apa mau nari?*

*Kalkulator Manual*

*pintu ke ruangan penyimpanan emas, guede bener…*

*mmm… sebenernya gue lupa ini buat apaan, mwahaha*

*pringisi meneer…*

*duit-duit lama*


Museum Fatahillah

Singapore oh Singapore

3 Apr

Atas nama haus udara segar, akhir tahun lalu gue memutuskan untuk jalan-jalan singkat ke negara tetangga kita, Singapura. Tripnya cuma 2 hari, tapi cukuplah buat gue ngambil impresi singkat soal negaranya.

Bermodalkan satu tas ransel, gue pun terbang ke Singapore.

Sampe di sana, ada satu kegiatan yang harus gue lakukan terlebih dahulu: merawanin convenient storenya. Hehehe… I love the fact that I can see or buy little things that I can’t buy in my home country. Entah itu cuma air mineral, permen, atau coklat. Kayak muncul bubble di atas kepala gue yang bilang: “I have tasted this and you guys haven’t.”

Ngehek nggak tuh. :P

Anyway, belanja di 7-11 airport juga ada alasannya, yaitu sekalian mecahin duit supaya bisa beli tiket MRT, karena biasanya money changer di Jakarta nggak ngasih pecahan uang yang lebih kecil, apalagi koin. Abis itu gue naik MRT dari airport ke Chevron House (turun di stasiun Raffles Place) buat nyari makan siang. Well, tujuan awalnya bukan Chevron House sih, tapi Singapore Flyer. Cuma karena gue nyasar (!), daripada berabe ya udah pasrah aja turun di Chevron House. Seneng deh gue, keluar dari stasiun langsung nemu taman… Gue liat orang-orang pada lalu lalang atau sekedar duduk-duduk di situ… Mane ade yang kayak beginian di Jakarta. Sekalinya ada, di kompleks mal -_- (Central Park, contohnya)

 

*emaaak, aku naik MRT, emaaak! #kelindes*



*di sekitar Chevron House (turun di stasiun Raffles Place)*

Kelar ganti baju dan ngiter-ngiter sebentar di seputar Chevron House, gue pun lanjut jalan-jalan ke daerah di depan area itu, yang mana ternyata adalah perkantoran. Aneh juga ngeliatnya. Kalo di daerah Sudirman, Jakarta, pemandangan yang sering terlihat adalah gedung-gedung tinggi dengan jalanan yang lebar, kalo di sini jalannya sempit-sempit gitu. Well, at least di daerah yang gue lewatin ini yah…

Karena waktu itu udah siang, gue pun memutuskan untuk cari makan… Secara kite lagi di negeri orang ya, mak, makan siang kudu beda dooooong! Akhirnya pilihan pun jatuh ke…

 

BURGER KING


Krik… krik… krik…

 

Beda dari Hongkong.

Yah, berhubung tempat makan lain di situ kurang meyakinkan penampakannya (dan nampak mahal juga), jadilah gue kembali ke habitat. Tapi nggak papa, masih ada hal-hal lain yang bisa dicoba.

Kelar makan siang, gue melanjutkan jalan-jalan ke daerah sekitar termasuk ke hotel Fullerton yang keliatan tua tapi megah itu. Gue juga suka banget jalan di pinggiran sungainya. Sejuk dan asri banget, banyak tempat duduk, dan ada tukang es potong! :D

*street impression*

 

*es krim potong cuma 1 dolar Singapore, juara! :D *


Setelah keliling-keliling di sini, sorenya gue pun pindah ke One Fullerton. Yes. Berhubung baru pertama kali ke sini, maka gue mewajibkan diri untuk foto di depan si patung singa (Merlion) yang ada di area One Fullerton ini (Merlion Park). Man, I love this place. Walaupun di sekitar patungnya rame, tapi waktu itu udaranya lagi sejuk dan tempatnya bersih banget. Terus di One Fullerton itu banyak kafe/coffee shop terbuka dengan pemandangan sungai, Singapore Flyer, dan hotel Marina  Bay Sands yang kece itu di depannya.

SAYA IRI PADAMU WAHAI RAKYAT SINGAPURA!


*turis dari berbagai negara di Asia, yang bule juga ada tapi dikit*


Kelar foto-foto, gue nyobain river cruising. Untuk river cruising ini, kalian bisa milih, mau full track ngelilingin semua pemberhentian atau mau naik sampai tempat tertentu aja. Gue milih untuk cruising sampe Clarke Quay aja (S$ 8), lebih murah. Dan apa rasanya sore-sore naik boat sambil nikmatin udara segar dan kota yang bersih? SURGA! Andai aja sungai-sungai di Jakarta dipreserve, bantaran kali ditata, bukan nggak mungkin kita bisa bikin yang beginian juga. Jadi hiburan buat rakyat plus ngebuka peluang usaha pula.

Dan gue pun sampai di Clarke Quay. Tempatnya lucu dan lagi-lagi didesign dengan suasana outdoor. Sungguh sempurna buat nyantai sore-sore. Di seberangnya juga ada mal yang cukup gede yang namanya Central. Di depan mal itu ada undakan tangga (pinggir sungai), kita bisa duduk-duduk di situ sambil sekedar makan es krim atau ngadem. Enak banget kali ya pulang kerja bisa begitu.

Kalau Clarke Quaynya sendiri, walaupun tempatnya lucu, menurut gue restorannya kurang menarik. Well, mungkin karena kebanyakan yang ada di situ restoran upscale semua kali yah, dan nggak ada yang bener-bener menarik. Akhirnya gue cuma ngiter-ngiter beli anting di salah satu stand di situ. Eh tapi kalau kalian sempet ke situ, jangan lupa cobain es krim Turkinya, ya! Murah kok, dan rasanya unik. Gue sempet nyobain es krim vanillanya, rasanya nggak ada susu-susunya sama sekali, tapi enak :D

Memasuki hari kedua, nggak banyak yang gue lakuin kecuali cek-cek ombak di Orchard Road. It was kind of boring actually, karena isinya mall semua. Tapi tetep suasana kawasannya yang asri, banyak pohon, dan bersih paling nggak membantu bikin para pengunjung ngerasa nyaman. Tapi tetep aja mall-nya rame -_________-

Di Orchard, gue sempet mampir ke Rubi Shoes di ION mall. Gue tau tempat ini dari rekomendasi temen-temen yang mana mengatakan bahwa di sini banyak sepatu murah yang ukurannya gede. AYE!

Maka betapa gue bawaannya pengen nyium lante ketika nemu sepatu ukuran 41-42 di sini. Bahkan yang ukurannya 40 aja muat. Kedengarannya lebay, tapi buat cewek-cewek yang ngerasain betapa susahnya nyari sepatu yang affordable dengan ukuran raksasa di Jakarta, you’re gonna love this place. :D

Kelar belanja sepatu yang sayangnya tidak banyak-banyak amat, gue pun kembali ke airport. Siap-siap mau pulang. Dari Orchard ke Changi kan jauh banget tuh, tapi dasar negara teratur, cukup naik MRT saja maka kalian bisa sampe airport dengan lancar dan selamat. Mana ada yang beginian di Jakarteee? Emang sih kondisi geografisnya beda sama Jakarta, negara ini lebih mini, tapi enak banget ya kalau Jakarta bisa ada MRT gini. Kalau ke airport nggak mesti sengsara berangkat berjam-jam lebih cepet plus deg-degan kalau jalanan tiba-tiba macet.

*Bye, Singapore!*

Oh well, akhirnya kelar deh perjalanan dua hari gue. Singkat, capek, tapi menyenangkan. Dan gue rasa kemampuan jalan kaki + jalan cepet ala kelabang gue makin mumpuni di sini, mwahahahaha… Yang bisa gue simpulkan dari trip singkat ini:

Betapa bahagianya bisa tinggal di kota/negara yang sangat terawat, terorganisir, dan tertib kayak begini. Living here is easy in terms of accomodation. Nggak ada mall, bisa nongkrong di taman. 7-11-nya? BEBAS ALAY :D Dan convenient store ini ada di mana-mana. Terus gue denger di 7/11 bahkan bisa bayar listrik, bayar tiket pesawat, dan lain-lain. See?  What an easy living.

Tapiii… Sebagus-bagusnya negara orang, tetep aja ada kurangnya. Buat gue selama dua hari di situ, ada “rasa” yang hilang. Saking teraturnya semua hal, akhirnya yang gue rasain adalah ritme hidup yang monoton, nggak ada dinamis-dinamisnya. Everything is predictable. Lama-lama jadi robot. Itu baru dua hari, loh. Belum lagi dengan budaya kiasu (ambisius; nggak mau kalah) yang pernah gue baca, bikin hidup selalu penuh persaingan dan tekanan. Terus gue baca juga di After Orchard (bukunya Margareta Astaman), kebebasan pers di sana dibatasi oleh pemerintah, untuk mencegah kericuhan yang nggak diinginkan. Kalau itu diterapkan di negara kayak kita yang rakyatnya belum  semua (sebagian besar malah) teredukasi dengan baik, gue bisa ngerti. Gimana coba mau kasih kebebasan berpendapat ke orang-orang yang anarkis di sini? (seperti forum-forum sok itu misalnya). Nah, kalau negara dengan rakyat yang pendidikan maju kayak Singapura, pembatasan kebebasan berpendapat justru (menurut gue), bikin pikiran orang-orang jadi mandeg, nggak terbiasa vokal dan kritis, akibatnya, ya ujung-ujungnya jadi robot lagi, deh.

Eh sorry kalau kedengarannya sotoy. Gue cuma nyimpulin ini dari apa yang gue lihat selama dua hari plus ngebaca buku karangan Margareta Astaman tadi. Dia kuliah selama empat tahun di Singapura dan ngerasain betapa kehidupan di sana begitu nyaman dan teratur, sekaligus sangat berat di saat yang saama. Kalau belum baca, baca deh :D Seru lho bisa tau kehidupan di negara lain. It has always been my favorite kind of book :D


Aight then pretty peeps, sekian laporan pandangan mata (yang udah basi) dan parade foto-foto (maklum yang nulis banci foto, hehehe…) dari negeri Singa. Doakan saya bisa jalan-jalan ke tempat lain dan menceritakan hal-hal seru lainnya yaaa! Amen :D

 

 

 

 

Glee!

21 Mar

Tahun lalu, gue iseng beli 1 keping DVD serial ini, waktu itu gue nggak tau apa-apa soal Glee, baru denger doang. Out of curiosity, akhirnya gue tonton. Sepuluh menit setelah keping DVD diputar, entah karena mood yang lagi nggak OK atau emang nggak tertarik, gue berhenti nonton. Sampai tahun ini.

Terus sekitar sebulan lalu gue nonton salah satu episode dari Season 2-nya di Star World. Waktu itu gue nggak ngerti sama sekali  sama cerita dan tokoh-tokohnya, tapi tetep gue terusin nonton. Semakin gue tonton, kok bagus, ye? Nggak semua lagu yang mereka nyanyiin ulang bagus, sih, tapi gue suka banget sama dialog-dialognya, baik yang berbau komedi ataupun yang serius.

Long story short, it’s safe to say that I’m officially a Gleek now. Sekarang gue marathon DVD season 1&2-nya setiap hari. Setiap pulang kerja, dan setiap weekend. Daaan, saking sukanya gue, mulailah gue cari itu Glee quotes, gue follow pemain-pemainnya di Twitter (tentunya gue tidak berlaku alay dengan meminta folbek #eaaa), gue google satu-satu profil produser dan pemain-pemainnya, gue download hampir sebagian besar lagunya, dan gue selalu mimisan tiap liat Finn sama Puck #LOH. Nggak deng. But I thank the show for spoiling my eyes, hehe…

I realize this all has been too much when I started to have a Glee dream -___-

Ya abis gimana ya, gue selalu nonton DVDnya setiap pulang kerja/fitness sampe gue tidur. Pas gue tidur pun DVDnya tetep gue nyalain, soalnya lampu tidur gue lagi mati. Gue bisa sih tidur dalam gelap, tapi kamar kos gue adalah pengecualian, soalnya kalo mati lampu total auranya nggak enak. *yah, gue curhat*


But the main question is, why do I love the show?


Because it’s so unreal yet relate-able to my world at the same time.

Ada 3 hal yang gue sukai di dunia ini selain makan:

  1. Nulis
  2. Nyanyi
  3. Modeling

Tapi yang paling gue suka cuma nulis, sementara gue nggak punya mimpi yang jauh (as in cari duit) di dua bidang lainnya, simply karena minat utama gue di nulis.

Anyway, minat gue emang nggak segitunya, tapi gue suka banget nyanyi-nyanyi dalam kelompok gitu. Ya, kayak vocal group, acoustic band, atau show choir kayak si Glee ini.

Ikutan vocal group sama band udah gue lakukan pas SMA. Tapi dari dulu gue selalu ngayal, betapa serunya bisa nyanyi-nyanyi, just for fun, tapi dengan lagu-lagu yang gue suka, Lagu-lagu keren yang diaransemen ulang, dan bisa dinyanyiin dengan harmonisasi yang kece. Dulu pas vocal group, pas udah bisa bagi suara dan nyanyiin lagunya dari awal sampe abis, rasanya seneeeng banget. I literally smiled during and after the session.  Because it made me happy. I guess it sorta like a stress reliever that karaoke can’t beat.

Dan begitu gue nonton Glee, gue menemukan khayalan jaman SMA gue, di mana ada sekelompok remaja nyanyi-nyanyi sesuka hati, pembagian suaranya kece, alat musik dari full band sampe akustik lengkap (ada audiorium segala), terus semua boleh nyanyi lagu-lagu Top 40 sampe lagu-lagu tua yang diaransemen ulang. Aaaaaaaaaaa…

Saking gilanya gue ngayal, gue mikir, andai aja si Ryan Murphy (produser Glee) ini kekurangan siswa Asia di serialnya, lah mbok main-main ke Indonesia gitu, lihatlah kami-kami ini, jangan Charice aja yang direkrut. #sakitjiwa

Melenceng dikit, setelah gue runut-runut, kecintaan gue akan nyanyi keroyokan ini bermula waktu gue kecil. Setiap natal, selain Home Alone, biasanya RCTI suka muter Sister Act 2. Nah, dari pertama kali gue nonton tuh film, gue kaguuum banget sama show choir di film itu… Keren aja bisa nyanyi lagi-lagu gospel tapi dengan kemasan yang nggak ngebosenin. Setiap natal gue selalu nunggu film Sister Act 2 itu, sampai akhirnya beli dvdnya dan muter ulang khusus pas bagian mereka nyanyi-nyanyi. Now that I have Glee, makin menjadi aja gue ngayal pengen nyanyi-nyanyi kayak mereka.


Bicara soal tokoh-tokoh di Glee?


Rachel Berry

Suaranya bagus, tapi bukan tipe suara yang gue suka. However her vocal range, her pitch and all is perfect. Karakternya emang semi nyebelin di Glee, tapi ada sisi baiknya juga. Cantik tapi annoying. Satu-satunya hal yang gue nggak suka adalah ekspresinya pas nyanyi. Oh sweet Rachel, I wish you know what LEBAY means. Mwehehe… Yah begitulah, pokoknya kalau si Rachel udah nyanyi dengan penghayatan berlebihan, gue dengerin aja sampe kelar, tapi sambil baca buku.


Quinn Fabray

Suaranya bagus, tapi biasa aja, kayak pop star gitulah. Cantik? Udah pasti. Tapi aktingnya menurut gue kurang… Kadang gue nggak bisa ngebedain dia ini lagi sedih, marah, cemburu, happy, atau datar-datar aja, karena dataaaaaar semua jatuhnya. Kosong gitu matanya, yang gerak cuma bibirnya aje.


Puck

The bad boy with the mohawk. Suara dan fisik: A. Kalau attitude, ya secara karakternya bad boy, yah sudahlah… Cuma si Puck ini bad boy bego gitu, jadi bukannya keren, malah sebel ngeliatnya, mwahahaha…


Finn

Di sekolah gue dulu, manalah ada cogan-cogan (anjis cogaaaaaaaaan *tuir*) a.k.a cowok ganteng berseliweran di sekolah, let alone punya team basket sama team sepakbola/futsal yang isinya kece-kece dan tinggi besar model si Finn. Yah, emang semuanya itu cuma ada di film kali ya… Mau ngayal ampe ledes juga ya ujung-ujungnya tetep di film aja kaum-kaum seperti ini bisa ditemukan. Jadi anggep aja si Finn ini bisa memenuhi high school fantasy gue karena pas SMA apalagi pas kuliah sekolah kami seret pemandangan.

Anyhoooooo, gue suka sama si Finn yang baik dan berjiwa pemimpin ini. Sayangnya bego -_- Bego nggak masuk akal sampai mikir Yesus bisa muncul di sandwich gosong. Gue sempet mikir, apakah episode Grilled Cheesus ini adalah salah satu episode dumb/lebay  version mereka, kayak di sinetron Indonesia, atau beneran portraying remaja-remaja airhead di sana? Are some teenagers in the USA really that stupid?

But, despite his quirky dance move, I love Finn’s drumplay and him being quarterback and all.

 

Mercedes

One of my faves! Love her voice, love her confidence :D

 

Kurt

Another character I love. Berani beda, dan gue suka line-line dialognya.

 

Santana

Seksi beneeeeer… Dan suaranya juga keren banget. Serak-serak basah gitu. Sayangnya dia bitchy to the bone.

 

Brittany

Gue suka banget sama Brittany… Lucu, polos, and downright stupid… Tiap ada kalimat keluar dari mulutnya bikin yang nonton mikir, nih orang lagi giting apa abis kebentur sesuatu, kayak ngigo gitu sepanjang episode. Tapi biar kalimat-kalimatnya suka bego, si Brittany ini sweet banget sih sebenernya… Gue paling suka pas episode natal (season 2) waktu dia minta Santa Claus di mall untuk bikin Artie supaya bisa jalan.

 

Artie

A guy with R&B voice, what’s not to love?

 

Tina & Mike

Abstain aja deh, nggak banyak komen untuk yang ini soalnya nggak ngefans-ngefans amat. But I love Mike’s ability to dance though… Such a good dancer.

 

Sam

One word after I saw him: boyband. Not a bad thing though, I grew up listening to boybands. Just need to balance it with R&B (that means Artie and Mercedes :D )

 

Will Schuester

Suaranya bagus, badan bagus, guru yang baiiik banget. Tapi soal rambut… gue harus setuju sama Sue Sylvester, mendingan dibotakin aja deh.

 

Sue Sylvester

Gue benci banget sama emak jahat satu ini, but sometimes she has a point. Tapi kadang kalau nggak lagi  “kesetrum” bisa baik juga ni emak.

 

Oke deh, kayaknya udah kepanjangan nih analisa gue.

 


Yang pasti, despite the singing part, serial ini (seperti serial-serial kesukaan gue lainnya) ngajarin gue soal hidup, soal acceptance (baik ke diri sendiri dan orang lain), soal persahabatan dan keluarga, soal having fun, dan lain-lain, yang mungkin nggak perlu lo alami sendiri tapi cukup dengan nonton aja lo jadi bisa ngerti. Dan tentunya, Glee itu gudang quotes juga! Mwehehehe #tetep

Aight people, that’s it for today. I’m gonna continue glee-ing. See you on the next TV shows analysis! :D

 

 


 

 

 

 

 

 

 

Casey Abrams

21 Feb

And of course you gotta love…

 

…Casey Abrams!

 

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

 


 

 

American Idol 10 – Group Week

21 Feb

Personally, I love this season better: karena udah nggak ada Paula Abdul. Mwehehe… Setelah nonton beberapa kali, gue lebih suka komposisi juri yang sekarang. Jennifer Lopeznya nggak terlalu emosional, Steven Tylernya SAYA SUKA SEKALIII *ngefans berat* Oh how I’d kill to be his daughter, secara gue juga 11-12 sama Liv Tyler, ya toh? Liv Tyler 11, gue 12,000.

-_________-

Randynya juga asik-asik aja… Pokoknya di sini menurut gue orang ngasih komentar sewajarnya dan pada porsinya, nggak terlalu pedes nyelekit sampe ke ulu hati. Jelek ya jelek, bagus ya bagus, yang biasa-biasa aja, ya juga biasa.

Meanwhile, ini tiga penampilan di Group Week kemarin yang gue suka.

Dan gue suka banget sama suara Deandre Brackensick  *______*

Cepet gede ya, dek…

 

 

Terus gue suka sama Chris Medina & Carson Higgins *yang ini karena dia pecicilan, hehe*

 

Terus group cewek-cewek ini gue juga suka banget kecuali si Ashley yang nervous breakdown mulu SEPANJANG GUE NONTON AMERICAN IDOL INI! Just kick her already!


 

 

New Year Eve’s Dinner

3 Jan

Hi there, pretty peeps!

Just a short one…

Mau sok-sok posting ala wisatawan kuliner nih.

So last new year’s eve, 31 Dec 2010 I had dinner with my bebe at Tony Roma’s – Panin Bank. For someone who WAS HAVING AN UPSET TUMMY DURING NEW YEAR’S EVE (ngehek banget nggak sih mau taun baruan perut disko -___-), even the tastiest ribs didn’t look that appealing to me.

Nevertheless, I ate that anyway. Ya iyalaaaaah, enak gituuu, hehe…

Walopun berakhir sengsara -_-

Jadi pilihan kami malam itu adalah:

St. Louis Ribs Regular Slab with Mashed Potatoes and… Coleslaw?

Apa dah gue lupa…

*ribsnya silahkan kakaaaaaaaaaaaaaaak*

 

Tapi yang jadi highlight malam itu adalah dessert pesenan gue yang emang udah gue tunggu-tunggu banget. Gue duluuu taunya dari sahabat gue Openg pas makan di sini dan doyan banget sejak saat itu, ironisnya, setaun lebih kemudian (yaitu pas dinner kemaren) baru kesampean lagi. Dan akhirnya kesampean juga gue memperkenalkan benda ini ke pacar karena gue tau dia bakalan suka, secara dese penggemar soft baked cookies berat. Yak sodara-sodara, kita tampilnyaaaaaaaaaaaaa…

 

SKILLET COOKIE SUNDAE!

 

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa! Ini enak banget sodara-sodaraaaaaa! Gue cuma makan dikit sik, sisanya dibabat sama bunderan di sebelah gue karena dia doyan, soalnya enak bangeeeeet, lalalalalaaaa… #nagih

Jadi cookienya itu kan disajiin di atas frying pan kecil, dan masih anget, terus dipaduin sama es krim vanilla dingin di atasnya, nah lo makan deh tuh barengan… Surgaaa!

Well, untuk ukuran harga emang terhitung cukup mahal mengingat restorannya juga, cuma beneran deh si Skillet Cookie Sundae ini worth the price banget menurut kami. Harganya Rp 90,000,- dan pasnya sih dimakan sama lebih dari satu orang ya… Kalo makan sendirian, seenak-enaknya juga bakal eneg.

 

Damn, jadi laper…

 

Baiklah sodara-sodari, sekian laporan wisata kuliner kami kali ini, kalo udah nyobain si Skillet Cookie Sundae itu (dan doyan) do share ya! ;)

My Best Friend’s Wedding on WEDDINGKU :)

3 Aug

Just a little sneak peak to Weddingku’s July – September edition which featured ChaCha (Luissa) and Billy’s Wedding last 2nd May 2010. If you happen to need some wedding ideas, maybe this one could help ;)



And of course, what would this wedding be if you have no bridesmaids… Particularly HOBAH girls! Mwahahahahahaha… #digaplokChaCha


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 41 other followers