Don’t Let Your Travel Bug Die!

3 Jun

 

 

October 2011.

A close friend of mine handed over a wooden jewel box to me as a gift, as he just got back from London. I opened the box and couldn’t help but smile as soon as I read his post-it message.

Exactly what I need.

Sudah sejak lamaaa sekali gue bermimpi untuk bisa jadi traveler.

Ini semua berawal 5 tahun lalu setelah gue menginjakkan kaki di Belanda untuk pertama kalinya, yang menjadi salah satu turning point di hidup gue.

Bagi seorang mahasiswa yang untuk nambah uang jajan aja kudu ngajar kursus, gue nggak pernah mimpi untuk bisa terbang ke benua lain. Jangankan ke benua lain, ke Bandung aja gue nabung. Gue nggak pernah merasa gue ini beruntung (soalnya ikut kuis dan door prize apapun nggak pernah menang, hahaha), sampai hari itu.

Bayangin, di satu hari, gue dipanggil fashion show produk batik seorang designer Jogja yang ternyata diundang ke Belanda untuk jualan dan fashion show di Tong-Tong Fair, Den Haag, selama 10 hari.

Kenapa beruntung? Karena dari tiga model yang ada di situ hari itu, cuma gue satu-satunya yang bertugas sebagai model pengganti, karena ada satu model yang berhalangan hadir. Mungkin situasinya akan berbeda sekarang kalau waktu itu gue nggak dipanggil untuk ngegantiin dia.

Dan hari itu juga, si desainer mengutarakan niatnya untuk mengajak kami bertiga bantuin dia jualan & meragain bajunya di Belanda. Semua akomodasi ditanggung dan dikasih honor. Dia nggak milih modelnya siapa, dia cuma ngajak yang saat itu ada di depan matanya.

Pulang ke rumah, gue langsung cerita ke bokap nyokap gue. Histeris bok gue!

Bokap udah masuk tahun kedua masa pensiunnya waktu itu, dan gue, nyokap, bokap, serta dua adek gue yang masih sekolah tinggal berhimpit di satu rumah kontrakan di perkampungan Betawi di daerah Jakarta Barat. Money was super tight at that time, sehingga gue juga cari kerja part-time untuk nambahin uang jajan. Ya kali kepikiran buat ke luar negeri, seumur-umur beli Starbucks aja gue nggak pernah waktu itu, saking mau ngirit.

Lalu tiba-tiba ada yang ngajak gue ke Belanda gratis? MIMPI APA GUE SEMALEEEM?

Sampai kapanpun, gue nggak akan pernah berhenti bersyukur untuk hari itu. Dan gue nggak akan melupakan trip-of-a-lifetime pertama gue ini. Walopun sambil kerja (a.k.a jaga stand lebih dari 10 jam tiap harinya, dan hanya bisa kabur jalan kadang-kadang), pengalaman yang gue dapet berharga sekali. Traveling mengajarkan lo banyak sekali hal yang mungkin nggak akan lo dapatkan secara akademis. Traveling itu nambah temen baru. Traveling bikin lo secara nggak sadar jadi lebih observant dan bisa menemukan hal-hal baru, karena sifatnya yang asing, nggak kayak di negara sendiri. Traveling juga menyadarkan lo, bahwa seindah-indahnya negara orang, tetep nggak ada yang ngalahin kampung halaman sendiri. Ini gue sadari setelah gue balik ke Indonesia dan secara membabi buta makan masakan ikan asin buatan nyokap selama seminggu, nggak ada yang ngalahin, dah! Hahaha…

Traveling juga memberikan efek surreal yang nggak bisa lo jelaskan sama sekali. Apa yah namanya, perasaan “membuncah” dalam hati. Kayak hati lo seneeeng banget bisa ada di suatu tempat yang indah yang belum pernah lo liat sebelumnya, tapi nggak bisa ngasih tau siapa-siapa, kira-kira gitu deh.

Perasaan ini terjadi menjelang penghujung trip Belanda gue. Satu malam terakhir, sang desainer bilang mau ngajak kita ke… PARIS! Yak, sebagai bonus bekerja berhari-hari, kami diajak ke Paris. Sehari doang, sih, TAPI KAPAN LAGI LIAT MENARA EIFFEL!

So there I was, standing in front of the Eiffel tower, feeling absolutely flabbergasted because I could not believe what’s in front of me. This world-renowned Paris icon stood before my eyes. Sumpah, rasanya waktu itu gue pengen nelpon emak gue cuma untuk bilang: “Mah, kakak di depan menara Eiffel, mah!”

Bagus kagak bawa tiker sama rantang gue ke sono. Norak bener, kan, gue? =)))

Terus terharunya pas udah pulang dan nyokap liat-liat foto di Eiffel, dia bilang: “Ih merinding deh mama, kakak udah sampe sana. Mama pengen banget bisa ke sana, tapi seneng anak mama paling nggak udah bisa liat langsung duluan.”

AKU. MAU. NANGIS.

Semoga satu hari nanti gue kalo kami semua dikasih rejeki dan umur panjang, gue bisa ngajak nyokap ke sana. AMIN YA TUHAAAN.

Bertahun-tahun sejak trip itu, gue nggak pernah traveling lagi sampe kira-kira tahun lalu, tapi itu juga trip ke Jogja dan Bali aja. Yang ke Jogja juga untuk urusan kantor sebenernya.

Dari rentang waktu 2007-2011, walaupun gue nggak jalan-jalan, ada banyak sekali hal yang terjadi yang merupakan efek dari perjalanan gue ke Belanda waktu itu. Gue dapat banyak banget temen baru dari Belanda dan beberapa negara Eropa lain sehingga network makin luas. Pun karena kantor gue yang sekarang adalah perusahaan Belanda dan bos gue kebanyakan dari Eropa (salah satunya Belanda juga), maka gue jadi lebih mudah nge-relate ke mereka, ice breaking jadi lebih gampang, dan topik obrolan lebih banyak. Bahas aja tentang negara mereka, tau-tau jadi ngobrol deh. Imbasnya? Mereka jadi lebih inget keberadaan elo. Ini tentunya, sebagai penyeimbang topik obrolan penting lainnya ya… Just because you know a lil bit more about their country doesn’t mean they will like you more, but it helps you a bit to “sell” yourself and to talk to them easier.

Anyway, sejak akhir tahun lalu, gue masuk ke fase turning point gue yang kedua. I was back to being single.

Seketika gue langsung mereview hidup gue beberapa tahun terakhir, dan membuat daftar hal-hal yang ingin gue capai dalam hidup, hal-hal yang belum kesampean di tahun-tahun lalu. Being single means total freedom. Total karena gue tidak tinggal sama orang tua, dan tidak punya pacar. Langsung dong, list gue panjang. Selain seketika jadi agak rajin nonton konser, otak gue nggak berhenti mikirin tempat-tempat mana aja yang mau gue kunjungin. Let’s travel, baby!

Desember tahun lalu, gue awali kegiatan traveling gue dengan pergi ke Singapore selama 6 hari dan menghadiahi diri dengan rave party untuk pertama kalinya di Zouk Out. Bersyukur sekali karena perginya untuk training kantor (jadi tiket sama hotel nggak mikir lagi, nyahahaha) dan bisa curi waktu weekend-an di sana bersama temen lama gue, si Belanda yang maha ganteng.

Maap, salah fokus.

MWAHAHAHA.

Tahun ini, trip yang udah dijalankan adalah trip Aussie di bulan April dan trip Waisak Jogja di bulan Mei. Gue kemudian sadar gue telah menemukan jodoh dari passion gue di dunia tulis menulis: TRAVELING!

Nggak ada yang ngalahin rasanya bisa melihat tempat baru, mengamati, mengambil foto, merekam (dan kadang belagak bak host acara traveling, hahaha) dan kemudian menumpahkannya di dalam tulisan. Di setiap trip pasti gue excited sendiri, nggak sabar pengen bagi ceritanya di blog. Nggak tau kenapa, seneng aja gitu. Dan penyakitnya, traveling itu bikin nagih! Hari pertama setelah balik dari Aussie, hal yang gue lakukan adalah… ngecek harga tiket dan browsing tempat wisata baru. Sakit =))

Dan insya Allah, akan ada empat trip lagi tahun ini yang akan gue laksanakan :D Salah satunya minggu depan, gue akan camping, liat sunrise, dan wisata di Dieng, Jawa Tengah sambil nonton Float perform di alam terbuka di Dieng, Jawa Tengah. Kenapa bisa-bisanya gue mau ikutan camping? Semenjak tergila-gila traveling, gue jadi punya banyak temen dengan hobi yang sama, sehingga info perjalanan dan program wisata bisa gue dapatkan dengan amat mudah. Pun banyak sekali akun Twitter yang sekarang gue follow, karena mereka suka menawarkan informasi tempat wisata baru, plus paket wisata yang murmer :D Gimana gue nggak ngiler, coba!

Punya hobi yang nagih dan makan biaya kayak gini, kadang bikin orang lain jadi nyinyir. Satu kalimat yang paling sering gue dengar setelah setahun belakangan gue jadi seneng traveling adalah: “Gila lo, Tep. Jalan-jalan mulu kerjanya.”

Walaupun dalam hati gue amini supaya suatu saat kerjaan gue emang akan cuma jalan-jalan, sebagai perempuan yang sensitif, gue bisa membedakan mana ucapan yang nyinyir dan mana yang tidak. Nah, yang ini jatuhnya nyinyir. Sebesar-besarnya keinginan gue untuk ngeledakin bom atom depan muke orang-orang nyinyir ini, gue memilih stay cool kayak kulkas dan senyum-senyum aja.

Nggak perlu kan gue cerita, bahwa sebagai kompensasi dari pemenuhan hasrat traveling ini, gue jadi ekstra medit di departemen pengeluaran lain. Nggak perlu kan dia tau, selama tiga bulan, weekdays dan weekend gue dijejelin sama tiga pekerjaan sampingan (nulis) untuk bantu nutup biaya tiket pesawat, akomodasi, dan uang jajan selama di Aussie? Udah kerja pake darah dan air mata kayak gitu masih ada aja yang nyinyir, belum pernah ditendang ampe Timbuktu kayaknya. Daaan, gimana ceritanya coba gue jalan-jalan mulu, kalo jatah cuti setahun cuma 12 hari? Jadi mungkin di mata mereka gue kerjanya jalan-jalan mulu padahal mah simple aja. Ada hari Sabtu Minggu, ada tanggal merah, ada jadwal cuti, lo atur aja dah tuh sedemikian rupa, you got yourself your traveling calendar! Bahkan ngajuin cuti aja gue pake teknik loh, alias ngeliat load kerjaan dan mood si bos dulu.

Tell me which part of those is an easy life for you?

Eniweeei, kembali ke gambar post-it di atas, temen gue yang nulis itu sudah melewati fase traveling ke berbagai negara, baik karena dikirim untuk kompetisi di luar negeri dari kampusnya dulu, maupun ketika dia kerja di satu institusi yang bikin dia harus traveling sana sini. Pun dengan profesi dan posisinya sekarang, gue yakin dia bisa terus jalan ke mana-mana.

Dan mimpi gue adalah supaya bisa kayak dia dengan cara gue sendiri.

Buat temen-temen yang punya cita-cita yang sama, satu hal yang gue pelajari dari semua ini adalah: “Impossible is nothing.” Dulu mimpi gue ini rasanya jauuuh sekali… But you know what, as long as you believe you can, you work hard, sometimes even twice as hard, and have enough patience, the universe conspires with you and it starts to make your dreams come true. Gue harus nunggu sampe berumur 24 tahun dulu untuk bisa mulai membiayai trip gue sendiri. Kalau kalian ada di stage yang lebih awal dan punya kesempatan, mumpung masih muda, why don’t you start now?

As for me, I don’t mind not having all the money in the world… for the world itself is the treasure.

That’s why I have to see it :)

Happy traveling, people! Don’t let your travel bug die! :D

PS. For “Jazzy”, thank you for your support and for believing in me. I always admire your drive and positivity. For a person as smart, kind, and driven as you are, you’re gonna go far and life will just be splendid. Keep it 5 cm ahead of you :D *gin and tonic cheers* ;)

 

 

The life of the kos-kosan girl…

1 Jun

Bulan Mei kemarin genap sudah gue dua tahun tinggal sendirian. Ya nggak ada apa-apanya juga sih sama yang udah lama ngekos/tinggal sendiri, cuma, gue sangat menyukai bagian hidup gue yang ini.

Iya, tinggal sendirian.

Kangen rumah, nggak?

Ya pasti ada saat-saat gue kangen suasana dan makanan rumah, dan orang-orang rumah tentunya, karena kalo kelamaan di kamar kos sendirian juga rasanya kayak lagi dipenjara, nyahaha…

Tapi untuk gue, ketika menginjak usia 20an, ada lebih banyak hal yang bisa gue lakukan kalo gue keluar dari rumah dan mulai hidup mandiri. Cara menata hidup pun mungkin bisa jadi berbeda setelah semuanya diurus sendiri dari hal kecil sampe hal besar. Lebih bebas sih iya banget. Tapi dengan tanggung jawab yang juga jauh lebih besar. Ini sih pengalaman dan pandangan pribadi gue yah, dengan kondisi & karakter keluarga yang juga mungkin berbeda dari kalian, jadi gue cuma nyampein opini gue aja ;)

Oke, mari masuk ke pembahasan lain. Jadi seperti apakah kehidupan gue sebagai anak kosan (menjurus penyendiri) saat ini?

A. Gue (memutuskan untuk) nggak punya TV

Jadi ngapain aja gue kalo punya waktu kosong?

Di hari biasa, seringnya gue ngabisin waktu setelah jam kantor dengan janjian sama temen-temen gue dari berbagai lingkaran pergaulan. Seru aja sih sekarang bisa sering catch up sama mereka… Selalu ada cerita baru :D Dan karena kosan gue selemparan kolor dari kantor, mall, dan tempat-tempat makan dari yang mahal sampe yang murah, maka biasanya gue seret mereka untuk ketemuannya di sekitar SCBD aja, nyahahaha… *ditimpuk*

Masuk wiken, kadang gue juga ketemuan sama temen-temen gue, tapi seringnya gue ngabisin waktu sendiri: kadang jalan-jalan, belanja, berenang, sepedaan, atau paling sering, ngerem di kamar hampir seharian.

Yes, kalo lagi ada waktu kosong dan nggak janjian sama siapa-siapa, waktu gue habis di kamar. Ngapain aja?

Macem-macem.

  • Tidur…
  • Makan…
  • Nyuci…
  • Rapi-rapi (ini selalu gue lakukan setiap hari, bukan karena kerajinan, tapi emang agak OCD aja gue. Adaaa aja barang-barang yang gue bongkar, gue rapiin lagi, atau gue ubah letaknya, etc)
  • Nulis quotes
  • Ngeblog
  • Sampe yang maha menghabiskan waktu: nonton serial dan browsing di internet

Inilah kenapa gue memutuskan untuk nggak beli TV lagi dan idup bersama buku dan beberapa gadget saja.

1. Our local TV shows are so crappy to the extent that it just leaves me speechless every time I turn on the TV. I have my own TV station now, it’s called Twitter and boy, ain’t it entertaining.

2. TV Cable often provides the TV series I love. But they are a lot slower than the downloadable episodes on the internet. So yeah, no TV again.

3. I have a 15″ office laptop that I can bring home and though it’s as big as a door, the monitor width is just so suitable to watch movies, moreover to write. It’s like having a TV, but it’s a laptop.

4. I lived in a house with another 3 girls in it (so it’s only 4 of us) and they often go home every weekend, even on weekdays I rarely meet them too. Life gets so individualistic… and the internet works even faster! =))) I downloaded stuff so brutally! It’s like heaven for a TV series lover like me! :D

5. Kamar gue lama-lama berubah jadi perpustakaan, karena gue suka beli buku dan majalah tiap bulannya tapi bacanya kapan-kapan. Dengan tidak adanya TV, mau nggak mau gue juga jadi “kepaksa” ngabisin baca semua buku dan majalah yang terbengkalai :D

B. Nyetok makanan

Ini sih udah pasti. Dari abon, pisang, Indomie goreng jumbo, cemilan, sampe sereal (yang kadang bukannya jadi sarapan tapi gue makan sebelum tidur, nyahahaha)

C. Nyuci & setrika sendiri sebagai salah satu bentuk survival

Kosan gue cuma nyediain mesin cuci, jadi semua urusan cuci setrika gue urus sendiri. Makanya weekend tuh waktunya nyuci banget dah. Aku merasa seperti ibu rumah tangga, hahaha… Terus gue paling maleees banget kalo udah berurusan sama setrika-menyetrika… Jadi triknya adalah, kalo gue baru perlu pake bajunya, baru deh gue setrika. Ada yang nanya kenapa nggak nyari kosan yang nyedian cuci setrika, jawabannya… kalo di daerah kosan yang deket kantor ini (SCBD dan sekitarnya), biasanya yang udah masuk cuci setrika minimal biaya kosan per bulan 2 juta. Daripada gue nangis darah bayar segitu tiap bulan, mending cuci sendiri, deh. Laundry kiloan pun aku tak mau dulu sekali dicoba, lalu diitung-itung, berasa juga tiap minggu bayar laundry. So, no. Lalu kembalilah gue menjadi anak kosan yang medit, hehehe…

D. Punya benda-benda/kegiatan “penyelamat”

Untuk menghindari diri menjadi emo nggak jelas karena nggak ada kegiatan, maka kehidupan saya yang tanpa TV ini dilengkapi oleh benda-benda dan tempat penyelamat :D

1. Laptop +  Koneksi Internet

*laptop tersayang yang macem talenan ini + koneksi internet kosan yang bikin gue streaming tanpa harus loading :D *

Tempat download TV series + film langganan: www.mediatvzone.net

LENGKAP LOH :D

2. Buku dan majalah

Ini adalah beberapa majalah TIME bekas yang gue beli di Blok M Square. Satunya cuma 5 ribu loh! Lebih murah 9x lipat dibanding yang di toko (karena masih baru, pastinya). Cuma kalo tujuan kalian lebih ke nambah pengetahuan dan keberatan baca beberapa berita yang udah nggak up-to-date, mendingan beli di sini ke mana-mana… Edisi yang nggak terlalu basi juga ada loh! (Cuma beda sebulan sama edisi baru)

Dan masih banyak lagi majalah dan buku-buku bekas berbagai jenis lainnya di Bursa Buku Blok M :D

3. Kamera

Kadang kalo lagi sendirian gue suka nemu hal-hal aneh atau lucu, basically apa aja yang menarik perhatian gue, akan gue foto. Sementara kalo lagi hang out sama temen-temen, udah pasti kamera ini akan diabuse. Lalu kalo dibawa traveling, kamera ini sampai di level peng-abuse-an maksimal. Karena selain untuk foto-foto, belakangan gue suka bikin video juga, sekedar menyelamatkan momen dan pemandangan-pemandangan yang gue liat terus ngoceh sok-sok menjelaskan, itung-itung latian kalo udah jadi host Discovery Travel & Living nanti #EAAAAA #AMINYAOLOOOH!

Sekilas info:

Karena kamera Canon pink kesayangan gue ilang dua bulan lalu, dan udah sempet jatuh pulak sehingga kadang suka error, maka gue memutuskan untuk beli lagi. Tadinya pengen Canon yang warna oranye, cuma kok mehong yeee… Saking pengennya, sampai setiap ke mall, gue suka ke toko elektronik terus gue liat-liat kameranya. Liat doang, terus keluar lagi kagak gue beli, hahaha… Sampai minggu lalu, di sesi “kunjungan ngarep” ke toko elektronik lainnya, gue nemu kamera ini. Nikon 14.1 megapixel (bisa video juga tentunya) dengan hargaaa: Rp 800,000 SAJA! #sujuddilanteElectronicCity

Nah, buat info aja nih, bagi yang mau nyari kamera digital baru yang murah dan tidak berbaterai A2 yang kudu gonta-ganti, cari yang merk Samsung dan Nikon. Dua merk ini yang gue inget ada yang harganya cuma Rp 1 juta atau 990ribuan dengan seri yang kece… Yang punya gue pun bahkan cuma Rp 800,000. Teruuus, carilah merk yang lagi ngabisin stock dan nggak akan diproduksi lagi, ya kayak gue ini makanya dapet murmer.

Sekian tips saya :D

4. MP3+ Radio Player

Si USB stick mungil ini kapasitasnya 4GB dan juga bisa untuk radio dan voice recording. Ini gue beli karena iPod touch gue mati suri karena nggak boleh install iTunes di laptop kantor (dan aku tak punya lappie lain). Emang sih, jauh lebih enak milih lagu dengan iPod touch karena yang ini kudu digeser satu-satu, cuma gue nggak  harus sync ke iTunes berulang-ulang kalo masukin lagu, cuma tinggal nyolok aje, copy-paste, kelar.

MP3 player ini setia menemani gue ketika jalan kaki ke kantor, pulang kantor, pas kerja, pas traveling, pas jalan kaki ke mana aja, pas nyangkut di perjalanan panjang dan membosankan, dan waktu mau tidur. Setiap hari gue colok di speaker yang gue taruh di sebelah kanan tempat tidur dan lagu pun terus berputar, ngikutin suasana hati. Satu waktu, gue nyalain lampu kamar yang warnanya kuning, jadi remang-remang gitu, terus mp3 player ini mainin lagu-lagunya Frank Sinatra… sumpah kayak lagi ada di jaman dulu rasanya, dan bikin mood jadi enak banget, hahaha…

Nah, kalo pas menjelang tidur malem, gue suka tune in ke Hard Rock FM karena lagunya kalo udah tengah malem enak-enak dan nggak ada penyiarnya… Ini juga bikin tidur jadi enak :D

5. Sepeda

Dari sepedaan tiap Car Free Day, sepedaan pagi, pergi berenang, belanja bulanan, ke salon, atau sekedar beli lauk di warteg, gue selalu pake sepeda oranye kesayangan gue :D Paling asik tuh kalo lagi sepedaan pagi di sekitar kosan atau pas Car Free Day, ngegowes sendirian sambil dengerin mp3 itu bener-bener nggak bisa dijelasin rasanya. Carefree – out of this world – feels like being in a video clip feeling gitu, nyahahaha… Bikin hepi, loh! :D

6. Baca buku di taman

Karena kadang weekend gue habiskan sendirian, selain ngiderin mall dan ngendon di toko buku, kadang gue suka baca buku di satu tempat. Saking desperatenya gue nyari “taman” yang bisa buat duduk – baca – sante-sante nikmatin udara kayak di luar negeri, akhirnya gue menyerah pada pilihan yang ada: PLAZA SENAYAN. 

Eits, bukan di dalam mallnya tentu, tapi di bagian luarnya yaitu area outdoor di depan Union dan gedung Sentral Senayan III. Nggak kayak taman juga sih nih tempat, lebih kayak lapangan marmer dikasih empat pohon beringin di setiap sudutnya, cuma di tengahnya ada air mancur yang kalo malem nyala. Lumayan bener (daripada kagak ada) untuk duduk-duduk sore di bawah pohon beringin atau di undakan tangganya sambil baca buku, ngemil, atau nikmatin udara sore yang sejuk.

By the way, best timing untuk datang ke “taman gadungan” ini adalah sekitar jam sebelum jam 11 siang dan sesudah jam 15.30, mataharinya kalem.

7. Berenang

Karena nggak ngegym lagi, bentuk olahraga yang gue lakukan adalah jalan kaki, sepedaan, dan berenang. Dua hal pertama nampak logis yah… Pertanyaan selanjutnya, di manakah gue berenang? Beruntunglah gue punya satu temen yang baik sekali. Waktu itu gue mikir, di mana ya bisa berenang di deket kosan yang nggak perlu naik taksi/kendaraan umum ke sananya, dan nggak perlu bayar juga berenangnya. Singkat kata: kagak ribet. Lalu suatu hari gue tau temen gue tinggal di apartemen yang deket bener sama kosan gue, jadi gue bisa ke sana naik sepeda. Masuknya nggak usah bayar tentunya, gue hanya perlu bilang ke security bahwa gue adalah tamu temen gue, karena ternyata temen-temen lain si temen gue ini pun suka datang berkunjung dan berenang dengan teknik yang sama. Makin sering gue dateng, malah nggak perlu ngomong apa-apa, langsung masuk terus berenang aja. Best part is: setiap gue dateng tuh kolam renang SELALU SEPI. Dengan sepi gue maksud, KAGAK ADA YANG BERENANG MULU. Set dah, ini orang-orang udah dikasih kolam segede gaban gini kagak pada doyan main air apa yah… Gimana gue nggak berasa macem bos-bos muda kalo gini caranya, hahaha… Jadi sering sekali terjadi adegan gue berenang sendirian, terus merapat pinggir kolam, sanderan,  dan menengadah ke atas sambil ngeliat langit malem. AJIB BENER DAH =))

Nah, kalo udah bosen di kolam luar, gue pindah dong… ke kolam renang indoornya :D . Ini bukan whirlpool yah, simply kolam renang indoor aja dengan size yang lebih kecil, DAN AIRNYA ANGET! KYAAA…

Terus tetep dong, tiap gue dateng, kagak ada orang… *mengulang leyeh-leyeh pinggir kolam macem bos muda*

Terima kasih banyak untuk temen gue yang sudah mengijinkan gue ngobok kolam-kolam ini dengan amat leluasa :D Aku senang :D *sungkem*

Yah, jadi begitulah kira-kira kehidupan gue si anak kos ini. Kadang hingar bingar, tapi seringnya menyepi #tsahelah

Tapi apapun dan bagaimanapun hidup lo, sendiri, berpasangan, atau masih sama keluarga, nikmatin aja :D And cherish all the little things, it will make your life even more beautiful :D

Salam persatuan anak kosan seendonesah!



You

29 May

 

 

“There is one thing of which I am so sure nothing will ever change it — that you will always be exquisitely loveable.”

-Rachel Lindsey

 

 

Sydney Newbie – Day 2

29 May

Hari kedua di Sydney, kami cuma punya waktu sedikit sekali buat jalan-jalan… Maklum, kudu ngejar flight ke Melbourne. Nasib karyawan, jatah cuti terbatas =))

Tapi nggak papa, mari memanfaat kan waktu liburan semaksimal mungkin! :D

Bangun pagi, agenda kami adalah cari sarapan terus nyari titipan sepupu Opie. Kalo di sana, cobain Pie Face deh! Enak-enak banget pienya! Pas buat sarapan atau ngemil :D

gambar dari: sini

gambar dari: sini

Kelar sarapan, kami jalan nyari satu toko untuk beli titipan tadi… Emang enak kalo nginep di pusat kota, soalnya tempat yang dicari nggak jauh ternyata. Dan apakah yang kami cari? Toko souvenirnya ONE DIRECTION -_____- *brb telen KTP*

Jadi sepupunya si Opie ini adalah fans berat One Direction, dan ternyata di Sydney ada satu toko yang khusus jual semua merchandise mereka. KHUSUS! SATU TOKO ISINYA ITU SEMUA. Gue kirain kan tokonya gabung sama toko apa gitu, taunya bener, namanya toko ONE DIRECTION lengkap dengan poster-poster mereka di etalase depan. Seumur-umur gue ngefans sama boyband, baru kali ini gue liat ada boyband sampe sengeri ini efeknya, ampe punya toko sendiri… Yasalam.

Tapi dede-dede One Direction ini emang unyu yah… mau demen kok rasanya salah, berasa tante-tante =)) Tapi yasalam yang namanya Zayn Malik itu gantengnya moso oloh banget dah… Arab-arab nanggung campur bule, sungguh perpaduan yang sempurna @_@

*suka nggak kuat liat yang ganteng*

*menurut ngana*

*cepet gede ya, dek… #elus-eluskaca*

*Opie dengan Harry, dede unyu yang belum tahu tujuan hidupnya, karena tujuan belahan rambut pun masih nggak jelas*

Kelar belagak kayak ABG di toko ABG itu (beneran yang dateng tuh cewek-cewek belasan tahun semua, ada juga yang dateng sama emak bapaknya, masih pagi lagi! Gila bener nih wabah One Direction), kami balik ke hotel dan nunggu dijemput sama Pri, Jeff, dan Zaneta, soalnya mau jalan-jalan lagi :D

Digiringlah kami siang itu ke Bondi Beach :D Udara lagi enak, nggak dingin nggak anget, pas lah sejuk-sejuk gitu… Sebelum mampir ke pantai, kami makan dulu di restoran Beach Burrito Co. yang nampaknya cukup terkenal di situ. Dan seperti biasa, porsi makan yang disediakan adalah porsi kuli, jadi lebih baik dishare :D

banyak yang ngajak anjingnya jalan-jalan

Abis itu, kami lanjut nyobain satu snack yang KUDU BANGET lo cobain kalo lo ke Bondi Beach, yaitu… DEEP FRIED MARS BAR!

Yes, people... Jadi makanan itu adalah satu bar coklat Mars yang disalut tepung kemudian digoreng. Rasanya enak BANGET, the hot chocolate melts in your mouth and it tastes like heaven, while the food itself is pretty much sinful considering the calories and fat inside, nyahahaha…

Tapi nggak papa, supaya tau rasanya :D Makannya cukup satu aja, karena perpaduan coklat sama minyak kalo dimakan kebanyakan, bikin lo eneg… Jangan lupa ya kalo ke Sydney, cobain! :D

*koki-koki yang bikin makanan penuh dosa ituuuh*

*tampak seperti pisang goreng*

*sinful yet heavenly!*

*endes bembeees*

Kelar melebarkan lingkar pinggang secara suka rela, gue dan temen-temen lanjut liat Bondi Beach. Pantainya kayak apa yah… Dreamland di Bali kali yah, luas, tapi bebas dari penjual kiri kanan, enak buat leha-leha sambil tiduran atau baca buku… Nah, di kompleks pantainya itu sendiri juga ada semacam taman berbukit gitu yang enak banget buat santai-santai sore, plus udaranya yang sejuk banget itu, gue udah nggak ngerti lagi deh rasa irinya ngarep tempat kayak ginian ada di Jakarta…

*marhabban ya mimisan*

*aku nggak mau pulaaaaaang #iri*

Yah, begitulah kira-kira hari kedua di Sydney yang sangat singkat… Terima kasih banyak ya, Jeff, Pri, dan Zaneta yang udah nemenin jalan-jalan :D Kalian baik sekali :*

Now off to Melbourne! :D

Sunday Brunch at Four Seasons

28 May

Ini adalah postingan telat seminggu tapi tetep mau gue share karena topiknya adalah makanan, hahaha…

Hari Minggu di minggu lalu, gue dan Carmel janjian ngebrunch bareng di Four Seasons Hotel, Kuningan, tepatnya di Seasons Cafe. Brunchnya available dari jam 11.30am sampe 16.00pm. Dan sebagai dua wanita cinta makan, tentunya kami sudah nongkrong dari jam 11 a.k.a 30 menit lebih cepet.

Proaktif ya, ceu =)))

Makanannya apa aja? International food pastinya, sagala aya… Dari makanan yurep, endonesah, jepang, cina, sampe indihe, they got it… Belum lagi deretan pastry dan dessert dari surga yang minta diabisin dan dibungkus pulang (tapi tentunya tidak kami lakukan karena kami wanita elehan…)

YA KALI DIBUNGKUS PULANG =))) Dikejer chefnya yang ada =)))

Nah, kalo mau makan buffet, tentunya persiapan harus maksimal dong yah…

1. Jangan makan apa-apa dulu dari rumah kecuali kapasitas perut yeni kayak karet

2. Don’t start with rice, nanti cepet kenyang. Ingat ceu, brunch ini dimulai dari jam 11.30 siang sampai jam 4 sore, yang artinya: 4, 5 jam waktu untuk makan sampe bego, jangan dirusak dari awal =))

3. Gue tau menu-menu mereka emang nampak amat sangat menggiurkan yah… Tapi saran gue sih mendingan kalo mau nyobain semua menu yang ada, ambil porsinya kecil-kecil aja, jadi perut masih muat kalo mau makan yang lain.

4. Stand by dari jam buka. Kagak rugi. Enough said =)))

*Foei Gras, versi bulenya Sambel Goreng Ati*

*kampring*

*kesukaan gue, soalnya udang :D *

*dessert dari surga*

Maka dari itu, sukses sudah acara makan-makan berdua gue dan neng Carmel yang kami tutup pada pukul 15.30. YES, kami nongkrong 4 jam di situ =))) Jadi bisa makan – ngobrol – rehat perut bentar – makan lagi, gituuu aja seterusnya =))

Baiklah sodara-sodara, sekian laporan dari gue. Selamat mencoba, ya!

PS. Terima kasih banyak neng Carmel yang sudah ngajak ngebrunch, dan juga untuk hadiah ultahnya yang maniiis sekali :D

PS lagi:

  1. Kalo mau ngebuffet di Restoran Sailendranya JW Marriott – Kuningan, bagi para wanita, disarankan dateng hari Rabu, karena ada Ladies Night, jadi diskon 50% (jatuhnya seitar 150ribuan) :D
  2. Kalo pengen free flow minum (alkohol & soda), tiap Selasa di MO Bar (Mandarin Oriental Hotel -  Thamrin) juga Ladies Night, sehingga grateeeisss :D Menjelang tengah malem pun ada DJnya, lumayan buat ajep-ajep di hari  biasa.

Sydney Newbie – Day 1

25 May

 

Setelah pantat gue menipis dengan sendirinya akibat transit yang terlalu lama di airport KL, pluuus, lama perjalanan dari KL ke Sydney yang memakan waktu kira-kira 8 jam (total duduk: 13 jam. YASALAM), AKHIRNYA GUE SAMA OPIE SAMPE JUGA DI SYDNEY YA OLOOOH!

*sujud di lante erpot*

Begitu sampe, kami dijemput sama temen SD gue, Priyanto. Harap diketahui, Priyanto adalah temen sebangku gue waktu SD di Medan dulu. Kami kenal kira-kira 4 tahun lamanya (dari kelas 1 – 4 SD), terus gue pindah ke Jakarta dan kita udah hilang contact sejak itu. Sekitar tahun 2009, kami ketemu lagi via online berkat website pergaulan sejuta umat: Facebook. Tapi kami baru ketemuan langsung awal tahun 2012, setelah 14 tahun kagak ketemu. Selama 14 tahun gap itu, banyak banget cerita-cerita yang terlewat, dan mungkin orang-orang baru yang lahir. Siapa sangka setelah 14 tahun nggak ketemu, Indonesia ternyata melahirkan seorang artis belia yang mukanya lebih tua dari kami. (tebak aja sendiri ya, nyahahaha)

Okeh, fokus.

Kami sampai si Sydney kemudian dijemput sama Pri dan pacarnya Rossa yang cantik, ceria, dan nyenengin banget orangnya :D Kami didrop sebentar untuk naruh barang di hotel terus lanjut cari makan siang.

Hotel yang kami pilih adalah Ibis World Square yang terletak di Jalan Pitt Street. Posisinya strategis banget, karena di tengah kota dan deket sama Chinatown. Waktu itu gue sama Opie ngubek di www.booking.com dan kemudian dapet kamar standar di situ dengan tarif kurang lebih Rp 1,2 juta semalem. Marhabban ya patungan. Tapi di sana juga banyak hostel yang keliatannya kece, kok. Emang pusatnya hostel di situ sih… mungkin karena di tengah kota yah. Dan ada juga resto dan toko-toko yang buka 24 jam, jadi mau kalo malem-malem laper, bisa jalan keluar bentar dari hotel dan cari makan. Menyenangkan deh kalo nginep di pusat kota :D

Nah, dari hotel, kami markir mobil Pri gedung parkiran (emang ada jasa yang khusus nyediain area parkir di sana) terdekat, terus jalan kaki ke Darling Quarter di Darling Harbour. Jalan cuma sekitar 15 menit dan rutenya gampang, tinggal lurus lurus aja terus sampe deh. Udaranya juga bersahabat, jadi menyenangkan :D Coba kalo jalan kaki di sini, sampe tempat udah mandi keringet…

Darling Quarter itu adalah kumpulan tempat makan semi outdoor yang baru dibangun. Kami makan siang bareng Pri, Rossa, dan satu temen Pri yang ikut gabung, Jeff :D Kami nyobain Thai Food di sana, nama restorannya Nok-Nok. Enak loh! Dan kata mereka, kalo ke Sydney harus coba restoran Thainya karena makanannya enak-enak (dan lebih enak di sana ketimbang di Jakarta). Sebenarnya ada satu resto Thailand yang jadi rekomendasi di sana: Chat Thai. Tapi karena waktu itu restonya rame banget, maka kami beralih ke Nok-Nok yang juga enak :D Cuma si Chat Thai ini kalo nggak salah lebih murah gitu.

Kelar makan siang, Rossa balik ke apartemennya karena mau belajar untuk final examnya Selasa nanti (rajin bener wiken belajar, jaman kuliah dulu gue belajar tengah malem sebelum hari H –> jangan ditiru). Jadilah gue dan Opie ditemenin sama Pri dan Jeff jalan-jalan, dan dikasih penjelasan tentang tempat-tempat sekitar. Tour guide abis, deh mereka! :D Pri dan Jeff ini udah 7 tahun tinggal di Sydney, jadi udah familiar banget sama kotanya. Kita sempet duduk bentar di pier Darling Harbournya, nikmatin suasana bentar, terus misah karena gue dan Opie mau ke Madam Tussaud (yang baru dibuka minggu itu! :D ). Setelahnya, kami janjian lagi di jembatan Darling Harbour dan jalan nyusurin kota. Liat Sydney Tower, Queen Victoria Building, gedung-gedung tua di Sydney, toko Apple terbesar, taman, untuk kemudian sampe di tujuan utama: Sydney Opera House  dan Harbour Bridge :D Semuanya dilakukan cukup dengan jalan kaki! Walopun betis bekonde, tapi seneng soalnya udara dan jalanannya bersahabat buat pejalan kaki :D

*Harga tiket masuk: AUD 35*

*Mas Presiden, kerja mas… kerja. Jangan cengar-cengir aje*

*Oma, segitu aja gelangnya? Katanya paling tajir seInggris!” –> kapan lagi bisa belagak lebih kaya dari Ratu Elizabeth II =))

www.khayalbabudarihati.com

*latihan kalo nanti pacaran sama bang Leo*

*If only you met me sooner, Heath #sakitjiwa*


*Dear Heath Ledger, andai saja kamu masih hidup, pasti kamu sudah aku acak-acak*

Lebih seneng lagi, karena temen-temen gue ini baik sekali mau nemenin :D *terharu* Bayangin kalo gue dan Opie yang keluyuran sendirian… Mungkin akan lebih adventurous sih… Tapi karena waktu stay kita di Sydney yang cuma sebentar banget, punya temen yang tinggal di sana amat sangat membantu. Karena banyak tips yang bisa didapet, ada temen ngobrol (dan motoin, nyahahaha *sungkem Pri & Jeff*), dan tempat-tempat yang dikunjungin sama makanan yang kami coba tentunya udah rekomendasi terbaik mereka sebagai warga Sydney yang udah menahun tinggal di sana :D Dan percayalah, sekeren-kerennya cas cis cus berbahasa Inggris sama para bule sekitar, punya temen sebangsa dan bisa nyeloteh pake slang Jakarta sambil jalan-jalan tuh jauh lebih asik! :D

*Sydney Tower as background :D *

*lovely sky*

*taman yang asri dan kerawat banget… ada yang cuma duduk santai, ada yang jogging sore… IRI DEH!*

 

*Seneeeng banget akhirnya kesampean nyampe sini, salah satu item di Bucket List gue pun alhamdullilah bisa dicoret sekarang :D *


Di bawah pelataran Opera House ini ada cafe/bar terbuka namanya Opera Bar, asik banget buat hang out!

Nah, kelar mengagumi pemandangan Opera House – laut – dan Harbour Bridge, kami juga ketemuan sama temen Opie yang lain di situ, namanya Anita :D Anita ini adiknya temen Opie di Jakarta yang juga udah tinggal lebih dari 5 tahun di Sydney… terus kita jalan deh, nyari makan :D Eh ternyata, ada temennya Pri lagi yang lain yang juga baru dateng dari Jakarta, namanya Zanetta. Makin rame! MAKIN SENANG! :D

Tadinya, kami mau makan di restoran Korea yang terkenal di sana, namanya Madang (di daerah SCBD Sydney). Cuma ye, saking terkenalnya restoran ini, antrinya panjang banget -____- Akhirnya kami melipir ke restoran Korea di sebelahnya yang ternyata juga enak :D *tapi lupa namanya, hahaha* Kelar makan malem, kami lanjut ngobrol sambil nyari tempat dessert terdekat, dan akhirnya duduk berbagi eskrim sejibun :D

Di sana makanan emang mahal, tapi porsinya kuli, jadi kalau kalian ke sana sebenernya bisa kok hemat pengeluaran di makanan, share aja :D

Terus di sana selalu disedian air putih (kayak kita di sini kalo dateng ke warung padang, haha)… Secara tap water bisa diminum ya, bok… Jadi soal minum pun bisa diakalin biar nggak boros… Bayangin kan kalo di Jakarta, masuk restoran, pesen air putih 330ml doang aja bisa Rp 8,000 sendiri, di club bisa Rp 50,000! *medit*

Kelar ngeskrim, Anita misah karena harus pulang. Sisanya pada lanjut menyambangi “The Star”, kasino terkenal di Sydney. Apakah kami berjudi? Tentu tidak, karena selain dilarang Rhoma Irama (yakali), kami pun tak punya uang, hahaha… Plis deh, beli tiket aja setengah mati nabungnya, ya kali deh gambling di negara orang, mwahahahaha… Tapi ambience di dalamnya nice, sih! Tempatnya mewah, trus ada barnya juga jadi bisa nongkrong di situ, dan ada club paling hip seantero Sydney di dalamnya, namanya Marquee. Pas gue merhatiin yang ngantri masuk club itu… buset. KAGAK ADA YANG JELEK =))) Cewe-cewenya dandan pol dan cakep semua, bongsor-bongsor bener lagi! :D Tapi begitu tau harga masuknya, males dah gue… AUD 60 a.k.a Rp 600,000… JAH. Mehita ya, ceu. Tapi kalau suatu saat gue ke sana lagi pengen juga nyobain biar tau…

Kelar siskamling di The Star, gue dan Opie yang udah tepar karena dari nyampe Sydney sampe tengah malem itu belum istirahat sama sekali pun  mutusin untuk balik ke hotel. Sementara Pri, Rossa, Jeff, dan Zanetta nampaknya baru mau lanjut ibadah tengah malem: clubbing, hahaha…Kagak ada capeknya bener :D

Wrapping up the day, we were really happy :D Jalan-jalan hari pertama aja udah menyenangkan banget, dan kami beruntung ketemu temen-temen satu negara yang baik dan asik-asik banget :D Bikin nggak sabar pengen ngejalanin 5 hari ke depannya dan kebayang sama tempat-tempat baru yang mau dikunjungin :D

Yuk, lanjut ke hari  kedua di Sydney! :D


 

 

Wishes

25 May

 

I placed my candle among hundreds of others that night, secretly whispered my prayers to the universe.

Even if God does or does not exist,

I wished that the sky above, the soil I stepped on, the air that I breathed would conspire…

…to fill my days with happiness

…to protect my heart so it does not hurt any longer

…put on a shield, make me even tougher, do whatever

…just save me from the bad things in life.

And let this heart of mine only understands two things,

to love sincerely and to cherish everything in life.

By then, I wouldn’t have room for hatred nor would I bother to let hurtful things eat my heart out.

I only have one heart to give,

and I do not know any other way,

other than to love them all the best I can.

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 42 other followers